Cerita Avuan: Mental Pecundang

Hai kembali lagi di blog avuan. Kali ini saya ingin bercerita tentang kisah saya dengan nuansa jangan ditiru. Maksudnya pada cerita sebelumnya saya menceritakan kisah motivasi yang sifatnya positif dan inspiratif. Kali ini saya ingin menceritakan kisah kegagalan dan sisi gelap saya agar anda bisa belajar dari kesalahan saya. Lagi dan lagi, saya hanya manusia biasa jadi blog avuan akan menceritakan secara adil baik keberhasilan maupun kesalahan saya demi terciptanya keseimbangan anda dalam memandang saya. Langsung saya tulisan kali ini berjudul “Mental pecundang”. Menurut saya Avuan itu pecundang secara umum khususnya era 2015-2018. Saya mendapatkan kesimpulan ini saya banyak merenung di tahun 2019 dan 2020. Entah Mengapa dulu saya seperti buta dan tidak bisa berpikir se objektif itu. Entah karena level kedewasaan dan daya kritis saya belum sampai atau apa. Yang jelas banyak sifat jelek saya saat itu yang menurut saya menghambat keberhasilan saya dan menunjukan ketidak dewasaan dalam bersikap. Saya soroti 3 hal saja agar tulisan ini bisa lebih efektif. Pertama Narsistik. Saya punya kecenderungan narsistik jika saya perhatikan dulu. Seperti postingan hal positif dalam diri saya dengan cara yang tidak elegan. Mengunggulkan diri sendiri, menjelekan orang lain, memaksa dalam memotivasi orang dengan kasus keberhasilan saya dan teralu simplifikasi dalam menilai sesuatu. Atas dasar sifat saya yang seperti ini, ada beberapa orang yang tidak menyukai saya. 

Sayangnya bukanya berbenah pada saat itu saya malah batu dengan pendirian saya. Sampai saya ditegur oleh seseorang. Vuan kayaknya lu harus belajar banyak dari Joko deh (nama samaran)”. Saat itu saya terketuk karena joko adalah saingan yang sangat saya ingin kalahkan secara prestasi. Namun saat itu saya kalah. Meskipun demikian joko lebih elegan, humble dan friendly dibandingkan saya. saya merasa ada yang salah dalam diri saya. Dari situlah saya mencoba perlahan mengurangi jiwa narsistik saya setelah mendapat teguran friendly dari seseorang yang menurut saya juga berbobot. Cara dia menegur tidak membuat saya denial. Kalau dipikir-pikir dia hebat juga ya. Ada juga supervisor saya saat magang dia terang-terangan bilang “vuan kalau kamu bisa saja buang sifat narsistikmu hidupmu akan maju”. Sudah 2 orang yang menegur saya, yang menegur bukan orang bodoh. Jadi mungkin itu yang menyebabkan Mengapa saya tidak denial. selama ini saya menganggap masukin dari orang tak berisi karena yang menasihati dibawah saya secara akademik dan prestasi. Itulah sebabnya saya menutup telinga dari keburukan saya dan terus larut dalam narsistik. 2019 saya menjadi orang yang lebih humble. Menjadi orang yang lebih menerima kekalahan, kelemahan dan masukan dari orang lain walaupun mungkin bertahap dan baru mencapai level ideal di tahun 2021.

Kedua yaitu sifat Oportunis. Saya punya kecenderungan seperti kutu loncat dulu. Saya kurang dalam loyalitas dan senang berpindah pindah dengan cara yang kurang elegan. Semisal saya merasa saya tidak mendapatkan apa apa dalam sebuah tempat saya akan pergi. Saya sangat terobsesi menjadi yang terbaik dengan tempo waktu yang cepat. Mungkin karena saat itu saya diburu oleh waktu ingin menjadi mawapres, melihat kiri kanan teman teman seangkatan saya semakin sukses dalam bidangnya masing-masing dan ada faktor ingin membanggakan keluarga yang tinggi. Saya gagal melihat orang lain juga punya perasaan yang sama. Pembedanya adalah etika, saya harus tetap beretika dan bersikap secara elegan bila punya ambisi yang tinggi. Jangan sampai ambisi yang tinggi malah merusak relasi sosial saya. teman dekat saya bilang “avuan bukan tidak sadar namun ignorant (tidak peduli)”. Ya lagi-lagi saya keras kepala karena kebetulan teman yang menyampaikan itu kurang kuat dan saya belum cukup dewasa sehingga masukan itu baru saya resapi di 2019. Sebenarnya cukup telat bagi saya untuk sadar itu. Bila saya sadar lebih cepat mungkin saya bisa lebih cemerlang hubungan sosialnya dan karir kampus. Namun, tetap saya belajar dan masih bisa meraih hasil positif atas perubahan diri saya.

Ketiga adalah kedewasaan dalam menerima kejamnya hidup. Pada saat saya gagal menjadi Menteri baik di BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) tingkat univ maupun fakultas saya teralu dalam menyalahkan realitas politik. Salah satu faktor Mengapa saya tidak terpilih karena saya tidak punya background politik yang kuat. Saya merasa saat itu saya pantas dengan kapasitas yang saya miliki. Namun saya teralu lama dalam kesal hati dan kesanya menjadi seorang mental pecundang. Ya, mungkin manusiawi saya kesal padahal sudah loyal dan cukup baik dalam berkinerja. Namun, bukan seperti itu caranya menyikapi kekalahan atau kegagalan dalam hidup. Jika ingat itu saya merasa malu dan ingin Kembali ke waktu dulu. Andai saya bisa mempercepat proses pendewasaan diri saya, mungkin saya akan bisa menjadi orang yang lebih baik. Harusnya saya lebih cepat bangkit, menerima kenyataan dan langsung fokus memperbaiki kualitas diri. Suatu hari saya depresi melihat nama saya tidak tercantum dalam nama Menteri yang terpilih. Saya menghabiskan waktu saya untuk main game seharian di kos. Kaka tingkat saya melihat tidak biasanya saya seperti itu. Ia menegur saya dan berkata “Ki lu gak biasanya gini, lu kenapa?” tanya dia ramah. 

Saya menjawab “Iya mas aku lagi galau nih” ujar saya singkat sambil tetap menatap layar game. Singkat cerita saya cerita apa yang saya ceritakan dan dia berkesimpulan “Menurut gua lu pecundang ki kalau terus larut dalam kekecewaan” ujar dia dengan nada seorang kakak menasihati adiknya. Saya mengiyakan dan masih belum benar-benar meresapi omonganya. Hingga saat mau tidur saya pikir ulang perkataanya dan saya merasa iya benar yang dikatakan kating saya. Semenjak hari itu saya bangkit dan belajar menerima realita. Saya juga mencoba untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas diri. Ya itulah kurang lebih kisah pelajaran saya. Saya harap anda bisa lebih sukses dari saya untuk menjauhi sifat kekurangan diatas. Indonesia butuh banyak orang sukses dan hebat dibidangnya masing-masing. Saya berharap kita bisa sukses bersama maka dari itu saya share kisah ini karena Indonesia butuh kita semua. Sukses itu tidak sendirian namun bersama-sama.

Terakhir saya ingin menyampaikan kalau pembaca tulisan ini adalah teman saya kuliah atau siapapun yang menjadi kenalan saya lalu anda menjadi korban kejelekan sifat saya. Saya ingin meminta maaf dan sekaligus mengajak mari kita berteman ulang. Saya yang sekarang sudah berubah dan mudah-mudahan kita diberikan kesempatan untuk bekerja sama atau minimal sekedar menyambung silahturahim yang terganggu karena sudah lulusnya kita dari mahasiswa. Saya hanyalah manusia biasa dan saya tidak bisa memuaskan semua orang, satu hal yang hanya bisa saya janjikan adalah saya akan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik dari waktu ke waktu. Jadi minimal tidak ada korban yang sama dan adalah orang yang dinamis menuju perubahan baik ^_^.

Komentar

error: Content is protected !!